Bangka Tengah Pelajari Wisata Islami ke Banda Aceh

Foto: Humas Banda Aceh

Foto: Humas Banda Aceh


Banda Aceh – Sebagai detinasi wisata Islami dunia, Kota Banda Aceh kini menjadi daya tarik bagi wisatawan. Bahkan pemerintah daerah lain juga ikut belajar ke ibu kota Provinsi Aceh ini untuk mengembangkan pariwisata religi. Seperti yang dilakukan rombongan Komisi II DPRD Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung. Mereka sengaja berkunjung ke Banda Aceh untuk belajar bagaimana memanfaatkan potensi budaya religi di daerahnya menjadi wisata yang menjanjikan.

“Pemanfaatan potensi sektor pariwisata untuk meningkatkan pendapatan daerah memang menjadi trend global saat ini,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kota Banda Aceh, Fadhil SSos MM, Kamis, 30 April 2015.

Fadhil ikut langsung dalam pertemuan selama tiga jam dengan rombongan wakil rakyat Bangka Tengah itu di Ruang Rapat Wali Kota Banda Aceh, Gedung Balai Kota, Lantai III, Rabu, 29 April 2015. Ikut hadir Asisten Keistimewaan, Pembangunan dan Ekonomi Setdako Banda Aceh Ir Gusmeri MT, serta sejumlah Kepala SKPD.

Ketua Komisi II DPRD Bangka Tengah yang juga pemimpin rombongan mengatakan, sebagai kabupaten baru, setelah 15 tahun ‘berpisah’ dari kabupaten induk (Bangka), pihaknya baru mulai tertarik untuk mengembangkan sektor pariwisata.

Memasuki periode ketiga pihaknya di kursi legislatif, politikus Partai Demokrat ini mengakui Bangka Tengah belum menjadikan pariwisata sebagai sektor prioritas. “Mayoritas penduduk kami berprofesi sebagai petani dan nelayan. Kami masih terfokus pada infrastruktur dan pendidikan.”

Menurutnya, sama seperti di Aceh, Bangka Tengah juga banyak memiliki budaya Islami dan membutuhkan saran, masukan dari Pemko Banda Aceh untuk masterplan pariwisata yang sedang mereka rancang.

Bangka Tengah, lanjut Maryam, juga memiliki sejumlah objek wisata andalan seperti pantai, air terjun dan situs-situs peninggalan bersejarah. “Namun pariwisata tentu bukan soal hiburan semata. Banda Aceh yang menerapkan syariat islam bisa menjadi contoh pariwisata islami di Indonesia.”

Gusmeri yang mewakili Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal, memaparkan secara sekilas tentang Kota Banda Aceh kepada para anggota dewan dari Bangka Tengah. Walaupun kunjungan wisatawan lokal sedikit menurun pada tahun ini jika dibandingkan tahun lalu, namun berdasarkan hunian hotel, kunjungan wisatawan manca negara naik hampir dua kali lipat. “Ke depan kami terus berusaha agar wisatawan jangan hanya transit di Banda Aceh sebelum ke daerah lainnya, tetapi bagaimana mereka bisa tinggal lebih lama. Kontribusi PAD terbesar kita saat ini adalah pajak hotel dan restoran.”

Sementara Fadhil mengatakan, pemanfaatan potensi sektor pariwisata untuk meningkatkan pendapatan daerah menjadi trend global saat ini. Pemko Banda Aceh telah memasukkan item pariwisata islami sebagai salah satu misinya dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2012-2017. “Banda Aceh menjual wisata islami. Targetnya menggaet wisatawan muslim maupun non-muslim dari seluruh dunia. Saat ini yang terbanyak datang dari Malaysia. Dengan penerapan Syariat Islam, kami yakin yang non muslim pun bisa menikmati indahnya suasana kehidupan islami,” ujar Fadhil.

Di sisi lain, Mairul Hazami, Kepala Dinas Syariat Islam Banda Aceh, menjelaskan, pelaksanaan syariat Islam di Aceh sudah menjadi tanggung jawab pemerintah berdasarkan undang-undang. “Kami ingin warga Kota Banda Aceh selamat di dua kampung, yakni di kampung dunia dan kampung akhirat.” [SM]