Banda Aceh dan Jepang Jajaki Kerjasama Baru

4 Agustus 2015

Foto: Humas Banda Aceh

Foto: Humas Banda Aceh

Banda Aceh – Pemerintah Kota Banda Aceh kembali membahas kerjasama tahap kedua dengan Pemko Higashimatsushima, Jepang. Kedua pihak akan sepakat untuk bekerjasama dibeberapa sektor diantaranya perikanan dan manajemen bencana.

Kerjasama tahap II dibahas dalam pertemuan di Balai Kota Banda Aceh, Senin, 3 Agustus 2015. Wali Kota Banda Aceh lliza Saaduddin Djamal hadir, didampingi Asisten Administrasi Umum M Nurdin, Staf Ahli Bidang Hukum dan Politik T Iwan Kesuma serta sejumlah Kepala SKPD.

Delegasi Kota Higashimatsushima masing-masing diwakili pegawai pemkonya, mahasiswa, perwakilan JICA dan HOPE-Community Based Mutual Recontruction Acceleration Program by Utilization df Local Resources in Banda Aceh and Higashimatsushima (CoMU Project). Rombongan yang delapan orang itu dipimpin Yoko Odaira, Kordinator HOPE.

Dari segi latar belakang, Banda Aceh dan Kota Higashimatsushima sama-sama pernah luluh lantak disapu tsunami. Banda Aceh dilanda tsunami pada 26 Desember 2004. Selang tujuh tahun kemudian giliran Higashimatsushima yang dihantam gelombang pembunuh.

Hubungan kedua kota pun kian intim. Sejak April 2014, Banda Aceh dan Higashimatsushima sepakat bekerjasama dalam beberapa bidang dan akhir berakhir pada Maret 2016. Dan sekarang sudah mulai dijajaki lagi kerjasama tahap dua. “Bagi yang baru pertama kali datang ke Banda Aceh saya ucapkan selamat datang dan semoga betah di kota kami,” sapa Iliza kepada rombongan dari Jepang.

Iliza juga menerima draf Momorandum of Understanding (MoU) jilid dua dari HOPE, perusahaan swasta bentukan Pemko Higashimatsushima yang fokus pada bidang rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana.

“Semoga apa-apa saja yang akan kita tuangkan dalam MoU yang baru ini bisa berjalan lancar untuk meneruskan apa yang telah digagas bersama dulunyam: kata wali kota mengapresiasi lanjutan kerjasama.

Menurut Asisten Administrasi Umum, M Nurdin, kerja sama kedua pihak pada tahap pertama lebih bersifat umum yakni di sektor pengelolaan sampah, mitigasi bencana, perikanan dan pariwisata serta community bussiness.

Kedua belah pihak telah beberapa kali mengadakan program on the job training (pertukaran delegasi) baik Pegawai Negeri Sipil maupun masyarakat untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman.

“Untuk ke depan kami menawarkan kerja sama lanjutan pada tiga sektor, yakni perikanan, comunal garden, disaster managementdan program creative camp,” katanya.

Ketua rombongan dari Jepang, Yoko Odaira menyebutkan, dikunjungan kali ini mereka telah berkunjung sejumlah tempat wisata terutama situs tsunami. Menurutnya, Banda Aceh berhasil menjaga situs-situs tsunami dengan baik. “Kota kami juga punya sejumlah tempat serupa tapi belum digarap dengan baik.”

“Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah Hutan Kota Tibang yang sangat menginspirasi kami. Di Higashimatsushima ada tempat yang sama dan letaknya berdekatan dengan laut, mungkin tempat itu bisa kami ‘sulap’ seperti Hutan Kota Tibang,” ungkap wanita yang fasih berbahasa Inggris ini.

Minggu (2/8) kemarin, mereka juga ikut bergotong royong dengan masyarakat Gampong Lambung, Kecamatan Meuraxa. “Besok kami akan berkunjung ke area relokasi pemukiman korban tsunami di komplek Perumahan Budha Suci. Kami ingin mengetahui bagaimana bencana ini berpengaruh pada masyarakat di sana,” pungkasnya.

Selanjutnya, Yoko Odaira dan Wakiko Ito, perwakilan dari HOPE, mempresentasikan sejumlah program kerja sama lanjutan dengan Pemko Banda Aceh, antara lain soal mitigasi bencana, pertukaran nelayan dan kebun desa.

Menurut Wakiko Ito, rencana program lanjutan di bidang rehabilitasi dan rekonstruksi yang saling menguntungkan selama tiga tahun ke depan tersebut akan menitikberatkan pada pemberdayaan ekonomi masyarakat untuk mitigasi bencana.

“Intinya keberhasilan di Higashimatsushima akan ditransfer ke Banda Aceh, begitu pula sebaliknya. Hal utama yang ingin kami lakukan adalah mengaktifkan kembali escape building. Kami berharap setengah dari aktivitas masyarakat bisa dilakukan di sana. Perpaduan antara bussiness community dan pengetahuan mitigasi bencana bisa memciptakan komunitas yang kuat.” Katanya. [SM]