Banda Aceh akan Miliki Fly Over dan Jalur Trans

Masjid Oman dan sekitarnya

Masjid Oman dan sekitarnya


Banda Aceh – Pemerintah Kota Banda Aceh akan terus meningkatan pembangunan dan pembenahan segala bidang, untuk memberi kenyaman kepada warga maupun siapa saja yang berkunjung ke sini. Bahkan tahun ini ada serangkaian infrastruktur monumental yang akan diwujudkan pembangunannya.

Beberapa proyek infrastruktur yang akan direalisasikan itu adalah fly over atau jalan layang, jalur menyelamatkan diri saat bencana (escape road), Banda Aceh Madani Education Center, sistem layar pemantauan aktivitas kota, dan Trans Banda Aceh termasuk pengoperasian 30 bus mulai tahun depan.

Hal itu disampaikan Wali Kota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal dalam Resepsi HUT Banda Aceh ke 810 di Amel Convention Hall yang dihadiri seribuan undangan dari berbagai unsur, termasuk peserta World Zakat Forum dari 10 negara. Acara berlangsung meriah, diiringi berbagai atraksi seni.

“Dengan kesabaran dan doa kita bersama, Banda Aceh ke depan insya Allah akan lebih baik dari hari ini, kita akan lebih maju dengan syariat Islam,” katanya, Selasa malam, 9 Juni 2015.

Pemko Banda Aceh telah menggelar 30 kegiatan dalam rangka memeriahkan hari jadinya. Rangkaian kegiatan itu ditutup dengan resepsi bersama, sekaligus pemberian penghargaan Banda Aceh Madani Award 2015 kepada instansi maupun personel yang berjasa dalam mewujudkan visi Banda Aceh menjadi Kota Madani.

Menurut Illiza 30 rangkaian kegiatan HUT Banda Aceh digelar dengan melibatkan masyarakat, sehingga diharapkan “masyarakat semakin cinta kepada kota ini dan bersyukur kepada Allah.”

Dalam momentum 810 tahun Banda Aceh, Illiza menyatakan komitmen pemerintahnya dalam mewujudkan visi Banda Aceh menjadi model Kota Madani dunia, dan membangun tamaddun serta peradaban Islam seperti yang pernah jaya pada masa Kesultanan Aceh dulu.

Illiza juga menceritakan kilas balik Banda Aceh setelah sempat luluh lantak dihantam tsunami 26 Desember 2004 yang menghancurkan sepertiga kota ini, merenggut puluhan ribu nyawa. Kemudian almarhum Mawardi Nurdin bersama dirinya dipercaya sebagai wali kota dan wakil wali kota untuk memimpin Banda Aceh.

Menurutnya bukan perkara mudah membangun Banda Aceh setelah tsunami, namun berkat bantuan international dan dukungan dari semua pihak, Banda Aceh mampu bangkit menjadi lebih maju.

Namun di tengah perjalanan periode kedua memimpin kota ini, Banda Aceh kehilangan sosok “Bapak Pembangunan” Mawardi Nurdin yang meninggal di RSUD Zainoel Abidin akibat komplikasi penyakit pada 8 Februari 2014. Illiza kemudian melanjutkan pembangunan.

“Mari sejenak kita mengenang almarhum Pak Mawardi Nurdin, dengan membaca Alfatihah bersama-sama dalam hati semoga beliau husnuh khatimah di sisi Allah,” ajak Illiza yang diiringi hening para hadirin.

Illiza kemudian memaparkan sejumlah keberhasilan yang sudah diwujudkan Banda Aceh, dengan segudang penghargaan diberikan baik tingkat nasional maupun international. Bahkan Banda Aceh kini termasuk kota paling siap di Indonesia dalam menerapkan smart city alias kota pintar.

Beberapa waktu lalu Wali Kota Banda Aceh mendapat undangan khusus menjadi pembicara di Forum Perserikatan Bangsa-Bangsa membahas terkait kebencanaan digelar di Jepang. Selanjutnya juga menjadi salah seorang pemateri dalam Konferensi Asia Afrika.

“Pasca musibah gempa dan tsunami 2004, kita sering diundang di kancah internasional untuk sharing pengelolaan bencana, dan tentu ini dapat terwujud berkat dukungan semua pihak. Banyak pula undangan yang tidak dapat kita penuhi karena keterbatasan anggaran,” katanya.[SM]