Aneka Kuliner Warisan Pejuang Aceh

Sejarah Aceh mulai dari era kesultanan hingga paska kemerdekaan tak pernah lepas dari perang. Perang ternyata tak melulu menyisakan duka, tapi juga mewariskan kuliner yang menggugah selera.

Ada sederet makanan tradisional bumi Serambi Mekkah awalnya sering dijadikan “ransum” pengganjal perut pejuang-pejuang Aceh tempo dulu ketika berperang.

Penganan itu masih bisa kita nikmati sekarang di Aceh. Sangat sederhana, alami tapi bergizi dan pastinya mengenyangkan. Rata-rata makanan itu disantap dengan kelapa parut.

Dalam pameran nasional memeringati 100 tahun Museum Aceh di Banda Aceh, 30 Juli-4 Agustus 2015, panitia ikut menampilkan aneka kuliner perang ini gratis. Stand bertulis Makanan Lam Perang atau makanan dalam perang itu diserbu pengunjung.

“Ini makanan khas, alami. Walaupun banyak makanan modern dari luar, tapi makanan ini tetap disukai,” kata Asma, panitia jaga stand yang juga petugas Museum Aceh, seperti dikutip okezone.com

Pemerhati sejarah dan adat Aceh, Tarmizi Abdul Hamid mengatakan, makanan-makanan ini dulu menjadi bekal ransum pasukan Aceh, karena sederhana dan cepat mengenyangkan. Selain itu memiliki kandungan karbohidrat dan nutrisi yang bisa menambah energi tubuh, serta tak cepat basi, karena tanpa pengawet. “Makanan perang ini tidak perlu banyak bahan, cara buatnya juga simple, terus aman dikonsumsi bisa menambah tenaga. Cepat kenyang kalau dimakan,” tuturnya.

Berikut kuliner tradisional warisan pejuang-pejuang Aceh masa lalu.
Leughok
Penganan terbuat dari remasan pisang masak dicampur beureune (sagu) kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus. Bentuknya padat, rasanya sedikit keasin-asinan dan aromanya khas. Leughok biasa dimakan dengan kelapa parut.

Leumpeng
Kudapan berbahan tepung beras ketan ini serupa timphan, bedanya leumpeng bentuknya sedikit tipis. Adonan leumpeng dibalut dengan daun pisang setelah diisi kelapa parut campur gula kemudian dipanggang. Rasanya kenyal manis dengan aroma wangi khas daun pisang.

Janeng
Janeng sejenis umbi-umbian hutan, termasuk marga tanaman Amorphopallus campanulatus. Buah ini disajikan dengan cara dinanak seperti nasi setelah lebih dulu dibersihkan, dicincang dan dijemur. Biasa disantap dengan kelapa parut. Rasa seperti nasi tapi ada sedikit kenyal-kenyalnya. Biasa disantap dengan kelapa.

Eumpieng

Adalah biji padi yang ditumbuk dengan jeungki (alat penumbuk padi tradisional Aceh). Eumpieng bisa langsung dimakan, tapi akan lebih nikmat disajikan dengan kelapa parut.

Boh bi, boh pisang, kacang dan jagong reuboh

Ubi, pisang, kacang dan jagung rebus yang bisanya disajikan dengan kelapa parut atau gula..

Keumamah
Ikan kayu yang dibuat dari tongkol rebus setengah matang kemudian dijemur hingga kering, selanjutnya dipotong panjang-panjang dan dilumuri tepung. Bisa tahan berminggu-minggu. Keumamah bisa dimakan langsung dengan nasi, tapi lebih nikmat lagi kalau dimasak dengan bumbu rempah-rempah. [SM]