Aceh Punya Kalender Bahasa Lokal

16 Oktober 2015

Kalander Aceh

Kalander Aceh


Banda Aceh – Kalender Bahasa Aceh diluncurkan. Unik, nama bulan, hari dan penanggalannya menggunakan bahasa Aceh. Kalender disusun dan diluncurkan aktivis kebudayaan yang tergabung Institut Peradaban Aceh (IPA). “Kami berharap kalender ini nantinya bisa dijadikan sebagai kalender harian di Aceh,” ujar Ketua IPA, Haekal Afifa di Banda Aceh Kamis 15 Oktober 2015.

Kalender diluncurkan pada acara Aceh Hijriah Carnival untuk memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1437 H. Menurut Haekal, sejak masa lalu masyarakat Aceh memiliki penanggalan-penanggalan tersendiri yang merujuk pada tahun hijriah, peristiwa besar dalam Islam serta tradisi.

Penanggalan tersebut dari dulu secara konsep tidak tertulis, tidak punya format seperti kelander sekarang. Orang Aceh menetapkan penanggalan itu hanya mengingat dari peristiwa-peristiwa besar.

Demi menjaga warisan nenak moyang, IPA kemudian berinisiatif menyusun kalender Aceh tertulis dalam bentuk baku. “Memiliki keunikan yang tak ada dalam almanak Masehi maupun Hijriah.”

Salah satunya adalah adalah keuneunong atau keunong, penanggalan yang merujuk pada kondisi musiman, biasanya jatuh di tanggal-tanggal ganjil. “Misalnya musim hujan disebut keunong sa,” sebutnya.

Bulan dalam kalender juga 12. Dimulai dari beuluen (bulan) Asan-usen, yang bertepatan dengan Muharram dalam tahun Hijriah. Asan-usen merujuk pada peristiwa terbunuhnya Hasan dan Husen, cucu Nabi Muhammad. Berikutnya Sapha (Safar), kemudian Beuluen Molot atau Mulot Phon bertepatan dengan Rabiul Awal, bulan yang identik dengan tradisi maulid. Selanjutnya bulan Adoe Mulot/Mulot Teungoh (Rabiul Akhir). Mulot Seuneulheuh/Madika Phon (Jumadil Awal). Khanduri Boh Kayee atau bulan kenduri buah-buahan (Jumadil Akhir). Khanduri Apam (Rajab), bulan dengan tradisi kenduri apam, penganan sejenis surabi.

Bulan delapan dikenal dengan nama Khanduri Bu (Sya’ban). Disusul Puasa (Ramadhan), Uroe Raya (Syawal), Meuapet/Meurapet (Dzulqaidah) dan Haji (Dzulhijjah).

Sedangkan nama-nama harinya Seulanyan (Senin), Seulasa (Selasa), Rabu, Hameh (Kamis), Djeum’at (Jumat), Sabtu dan Aleuhad alias Ahad (Minggu). Kalender diluncurkan ini juga dilengkapi dengan gambar sejarah, budaya, adat dan sastra Aceh. “Kita rencana mau memperbanyak,” kata Haekal. [SM]