Ribuan Pesepeda Jelajah Kota Pusaka

7 Juni 2015

Banda Aceh – Sebanyak 2.500 pesepeda antusias mengikuti Banda Aceh Bike bertajuk Jelajah Kota Pusaka. Mereka diajak bersepeda santai melintasi kawasan-kawasan situs wisata sejarah yang ada di tengah Ibu Kota Provinsi Aceh, Minggu pagi, 7 Juni 2015.

Kegiatan ini bagian dari rangkaian memeriahkan hari jadi Kota Banda Aceh ke 810. Digelar Dinas Kebudayaan Pariwisata (Disbudpar) Kota Banda Aceh, bekerjasama dengan Serambi Indonesia, dan Universitas Terbuka. “Kegiatan ini bertujuan salah satunya ingin mengajak masyarakat mengetahui, menjaga, merawat objek wisata sejarah di Banda Aceh,” kata Kabid Promosi Disbudpar Banda Aceh, Hasnanda Putra di sela acara.

Menurutnya Banda Aceh sudah diakui sebagai salah satu Kota Pusaka Indonesia karena banyak terdapat bukti-bukti sejarah dan peradaban masa lalu di sini, termasuk perkembangan Islam sejak masa kesultanan.

Para peserta dilepas langsung Wali Kota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal di Taman Sari, didampingi Ketua DPRK Arif Fadhilah, Kepala Disbudpar Banda Aceh, Fadhil, serta Asisten III Setdako M Nasir.

Mereka kemudian mengayuh sepedanya melintasi Museum Tsunami kemudian ke Lapangan Blang Padang; lokasi berdirinya monumen pesawat RI-001 Seulawah, Tugu Tsunami, dan prasasti ucapan terima kasih untuk bangsa-bangsa di dunia yang telah membantu Aceh saat tsunami. Di seberangnya juga ada gedung peninggalan Belanda yang kini dijadikan SMAN 1 Banda Aceh.

Dari Blang Padang peserta mengular menuju Jalan KH Ahmad Dahlan melintasi Pasar Atjeh terus ke Jalan Tentara Pelajar, berbelok ke Jalan Cut Mutia yang di sisinya ada gedung Pusat Keuangan Pemerintah Hindia Belanda yang kini dijadikan Kantor Bank Indonesia perwakilan Aceh.

Pesepeda kemudian ke jembatan indah Pante Pirak lurus ke Bundaran Simpang Lima yang merupakan landmarknya Banda Aceh, selanjutnya menelusuri Jalan Daud Beureuh yang kiri kanannya dipenuhi gedung-gedung pemerintahan dan layanan publik.

Setiba di Simpang Jambo Tape, mereka menyasar Jalan Hasan Dek hingga Simpang Surabaya kemudian berbelok ke Jalan Teungku Chik di Tiro selanjutnya ke Jalan SA Mahmudsyah yang banyak terdapat tempat-tempat bersejarah seperti Museum Negeri Aceh, Gedung Juang, Makam-Makam Sultan Aceh,

Meuligoe Gubernur Aceh, dan bekas perumahan Pemerintah Hindia Belanda.
Gowes berakhir di Taman Putroe Phang, taman raja-raja alias Bustanussalatin. Di sini aneka hiburan seperti Tari Rapa’I Geleng dan lagu-lagu Aceh dipersembahkan ke peserta bersama pembagian berbagai hadiah menarik.

Wali Kota Illiza Saaduddin Djamal berharap, tahun depan kegiatan ini bisa digelar lebih meriah lagi dengan melibatnya lebih banyak lagi peserta dari Aceh maupun seluruh Indonesia. Terlebih lagi pada 2016 nanti Banda Aceh akan jadi tuan rumah Rakernas jaringan Kota Pusaka Indonesia. [SM]