Festival Kopi International Siap Digelar di Banda Aceh

FestivalKopi2015_6
Banda Aceh – Kementerian Pariwisata berjanji siap menggelar Festival Kopi International di Banda Aceh pada 2016. Hal ini terinspirasi dari kesuksesan Banda Aceh menggelar festival kopi dalam setiap tahun sejak 2011.

Hal itu dikatakan Deputi Bidang Pegembangan Pemasaran, Periwisata Nusantara Kemenpar, Hesti Reko Hastuti saat membuka Banda Aceh Coffee Festival di Taman Sari, Jumat malam 6 November 2015.

“Tahun depan kita akan membuat Banda Aceh Internastional Festival Coffee, kita berharap nanti akan semakin bisa meningkatkan dan mendongkrak perekonomian masyarakat Aceh,” kata Hesti.

Banda Aceh Coffee Festival kali ini bersamaan dengan pagelaran Festival Kopi dan Teh Nusantara digelar kementerian. Menurutnya tahun depan festival ini bisa dibuat dalam skala lebih besar sehingga berdampak luas bagi perekonomian.

Hesti mengatakan festival berlevel international nanti akan lebih banyak lagi melibatkan masyarakat, terutama pelaku sektor kopi, baik petani, pengusaha termasuk pebisnis warung kopi.

Hesti Reko Hastuti juga menyarankan Pemko Banda Aceh dan Pemerintah Aceh agar jangan hanya memanfaatkan komoditas kopi minuman saja, namun juga bisa mengkreasinya dalam bentuk sajian lainnya seperti makanan sehingga lebih cepat menumbuhkan ekonomi masyarakat.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal dalam sambutannya mengutarakan, Banda Aceh merupakan pusat kota Provinsi Aceh berjuluk 1001 warung kopi.

Menurutnya warung kopi di Banda Aceh bukan hanya digunakan untuk bersantai sambil minum kopi, tapi juga sering dijadikan tempat silaturrahmi, diskusi, belajar hingga bicara tentang kancah perpolitikan.

“Apa lagi dalam waktu dekat gendang Pilkada sudah ditabuh. Tentunya akan diramaikan oleh kandidat untuk mencari dukungan di warung kopi.”

Banda Aceh Coffee Festival 2015 kali ini mengangkat tema ” The Soul Of Arabica, From Aceh to The World” dengan melibatkan banyak orang dan komponen. Mulai dari pengusaha kopi, petani kopi dan pengunjung yang sekedar melihat proses pembuatan stand etnic dan taman kopi.

“Tahun ini mengangkat tema tentang kopi Arabika, meskipun tidak mengesampingkan robusta. Karena saat ini di Banda Aceh banyak sudah tumbuh warung kopi Arabika,” ujarnya. [SM]