Sekali Seumur Hidup Kamu Harus Merasakan Ramadhan di Banda Aceh, Ini Alasannya

Masyarakat Aceh selalu merindukan datangnya bulan Ramadhan, karena banyak nuansa menarik yang tak didapat di bulan lain.

by Rahmat Aulia 

Ramadhan tiba..

Ramadhan tiba..

Marhaban ya Ramadhan

Kamu pasti mendengar penggalan lagu Opick ini setiap menjelang bulan Ramadhan, kan? Lalu membayangkan rindunya sahur, salat tarawih, hingga buka puasa bersama.

Saya menyarakan, sekali waktu, datanglah ke Banda Aceh di bulan Ramadhan, kamu akan merasakan nuansa bulan puasa yang sangat berbeda dengan di daerah lain. Misalnya selama puasa kamu tidak akan menemukan satu warung makanan pun buka pada siang hari. Selama Ramadhan di Banda Aceh, kamu setidaknya akan melihat hal-hal berikut ini.

 

Setiap Ramadhan di Banda Aceh, masyarakat berlomba-lomba shalat 5 waktu berjamaah.


Frekuensinya meningkat dibanding pada bulan lain. Selama puasa, kamu akan menemukan masjid dipenuhi oleh jamaah yang larut dalam ibadah seperti shalat sunah dan membaca Al-Qur’an. Masjid juga diisi dengan kegiatan-kegiatan edukasi seperti Pesantren Kilat dan lomba-lomba bernuansa islami.

 

Setiap Ramadhan di Banda Aceh, semua kegiatan berhenti pada jam-jam tarawih.

Sehabis magrib, warga mulai mendiskusikan akan shalat tarawih berjamaah di masjid yang mana. Lalu mereka berlomba-lomba untuk mencari masjid ternyaman untuk tarawih.

Apalgi biasanya pada bulan Ramadhan, pemerintah melalui pengurus masjid juga mengundang imam-imam dari Timur Tengah yang mempunyai suara merdu dan bacaan yang fasih untuk menjadi imam tarawih.

 

Setiap Ramadhan di Banda Aceh, sebagian masyarakat memilih beraktivitas usai shalat tarawih hingga menjelang sahur.

Pasar-pasar akan mulai berdenyut ketika tarawih usai, pedagang sayur yang biasanya menjajakan dagangan pada pagi hari maka akan beralih jualan setelah shalat tarawih.

 

Setiap Ramadhan di Banda Aceh, masyarakat memilih masjid-masjid tertentu untuk salat tarawih berjamaah.

A post shared by M ANSHAR (@m_anshar_aan) on


Ada dua masjid yang selalu diincar warga untuk tarawih berjamaah, Masjid Raya Baiturrahman dan Masjid Agung Al-Makmur atau dikenal Masjid Oman Lamprit.

Masjid Raya Baiturrahman dari dulu selalu menjadi primadona di bulan puasa. Sebab masjid ini memiliki daya tampung yang cukup besar ditambah dengan lokasinya yang sangat strategis. Sering pula mendatangkan imam-imam dengan suara merdu dari luar Aceh.

Khusus sejak Ramadhan 1438 hijriah ini, pemerintah Aceh juga telah memasang payung elektrik raksasa dan merenovasi besar-besaran Masjid Raya Baiturrahman dengan nuansa Mekkah. Jamaah seakan-akan seperti sedang shalat di Masjidil Haram.

Tak mau kalah, Masjid Oman yang beraksitektur Timur Tengah, menarik minat jamaah dengan mendatangkan imam tarawih dari luar Aceh yang suaranya merdu. Biasanya imam dari Timur Tengah. Apalagi di 10 malam terakhir, di masjid ini diadakan shalat Qiyamul Lail berjamaah.

 

Setiap Ramadhan di Banda Aceh, masyarakat selalu mencari kesempatan untuk buka puasa bersama.

Kelompok-kelompok warga berbuka puasa bersama memenuhi restoran, cafe, atau pusat-pusat pendidikan yang tersebar di Kota Banda Aceh. Ajang buka puasa bersama ini kalau di Banda Aceh dikenal dengan istilah buka bareng atau disingkat menjadi “bubar”.

 

Setiap Ramadhan di Banda Aceh, pedagang musiman muncul di mana-mana.

Para pedagang membanjiri setiap sisi badan jalan setelah Ashar. Aneka kue dan minuman untuk berbuka dijajakan dari rak-rak kaca atau dari dalam food truck.

Banyak sekali menu berbuka yang dijual dan tentunya terjamin tingkat higenitasnya. Kamu bahkan bisa menemukan menu-menu khas yang tak muncul di bulan lain.

 

Setiap Ramadhan di Banda Aceh, malam tak pernah hening oleh tadarus.

A post shared by Teuku Ilham (@teukeuilham) on


Setelah tarawih hingga menjelang sahur kita akan mendengarkan lantunan ayat suci menggema dari tiap corong meunasah atau masjid. Masyarakat dari berbagai lintas usia tadarus bersama untuk menyemarakkan bulan suci Ramadhan. Bersahut-sahutan hingga menjelang sahur.

 

Setiap Ramadhan di Banda Aceh, warga berburu makanan khas bulan puasa.

Kamu akan melihat hidangan menu berbuka atau sahur yang hanya ada di bulan Ramadhan. Salah satunya menjelang berbuka puasa, anak-anak atau warga akan berburu “ie bu” alias kanji rumbi ke meunasah atau masjid. Kanji Rumbi ini biasa dimasak pengurus masjid dalam kuali besar. Dibagikan kepada warga atau tamu secara gratis setiap harinya.

Setiap Ramadhan di Banda Aceh, suasana perkotaan “nyepi” sepanjang hari.

Keramaian baru terlihat di sore hari, saat ngabuburit atau menjelang berbuka puasa. Pedagang mulai menjajakan dagangannya dan masyarakat siap hunting menu berbuka.

Ramadhan adalah bulan yang paling ditunggu seluruh masyarakat Aceh sehingga muncul aneuk dot “mita sithon untuk pajoh sibuleuen (mencari rezeki selama setahun untuk dihabiskan sebulan (bulan Ramadhan).”

Kamu yang sedang baca artikel ini, kapan merasakan suasana Ramadhan di Aceh?[]

Foto Cover by Mustawazir