Menara Air Belanda di Kutaradja

MENARA Air ini merupakan peninggalan Pemerintah Hindia Belanda, yang kini menjadi situs wisata sejarah. Letaknya tak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman, atau bersebelahan dengan Taman Sari Bustanussalatin, Banda Aceh. Dibangun tahun 1880-an, monumen yang dalam bahasa Belanda disebut Water Teron ini masih kokoh berdiri di tengah kota.

Material bangunannya mayoritas betok dengan bentuk bundar. Terdapat satu pintu kayu menghadap ke barat. Bagian atas menara ini bentuknya lebih lebar, terbuat dari kayu yang berukiran khas Belanda. Pada puncak atapnya tampak seperti kubah.

Menurut sejarah, menara ini merupakan tempat penampungan dan pendistribusian air semasa kolonial Belanda. Pemerintah Hindia-Belanda tahun 1904 merintis pusat pengolahan air bernama Geni Water Leading yang berlokasi di area Keraton atau bekas Istana Kerajaan Aceh ini. Setahun kemudian aktivitas produksi air mulai berlangsung.

Air yang diolah di tower ini bersumber dari pegunungan Glee Taron, Mata Ie, Aceh Besar. Setelah ditampung kemudian didistribusikan untuk kebutuhan militer dan pengawas sipil pemerintah di Kutaradja (Banda Aceh sekarang).

Menara ini sekarang tak difungsikan lagi, namun di dalam bangunan ini masih terdapat pipa-pipa, pengukur debit air dan elemen sejarah peninggalan kolonial lainnya.

Pemerintah Kota Banda Aceh telah memugar tower ini dan menjadikannya sebagai salah satu situs sejarah yang layak dikunjungi. Menara ini juga sudah dipasang lampu, sehingga terlihat eksotik di malam hari. [SM]