Ramadan, Serunya Isi Waktu di Masjid Bekas Tsunami

Banda Aceh – Saat mendekati pintu gerbang Masjid Baiturrahim, Ulee Lheue, Banda Aceh, aroma laut begitu kentara. Angin lalu sepoi-sepoi membuang hawa panas siang itu, Jumat 19 Juni 2015.

Sebentar lagi pelaksanaan shalat Jumat dimulai, yang pertama di bulan suci Ramadan. Satu persatu jamaah memasuki masjid yang penuh sejarah itu, tak rubuh diterjang ombak gergasi. Di bagian-bagian tertentu di dalam masjid, tsunami masih menyimpan bukti pada dinding beton yang tampak keropos.

Ketika tsunami melumat pesisir Aceh 26 Desember 2004, Ulee Lheue rata tanah. Satu-satunya bangunan tersisa adalah Masjid Baiturrahim, yang letaknya hanya terpaut terpaut puluhan meter dari bibir pantai. Dari 6.000-an penduduk di desa ini, separuh lebih menjadi korban. Empat dusun raib ditelan gelombang.

Sekretaris Pengurus Masjid, Subhan adalah salah satu korban yang selamat di kampung itu. Dia sempat lari setelah digulung ombak di depan masjid. “Banyak yang mencoba menyelamatkan diri ke Masjid, tapi hanya sembilan orang yang selamat di setelah berhasil naik ke puncaknya,” katanya kepada Tempo.

Usai tsunami, masjid tak rusak parah. Hanya alquran dan kitab-kitab yang berserakan di dalamnya. Bangunan masjid yang tanpa rangka besi dan tulang penyangga ini hanya rusak 20 persennya saja di samping dan belakang. Kini kerusakan telah diperbaiki.

Bukti amuk tsunami di sekitar masjid, ada foto-foto yang terpasang untuk dinikmati pegunjung di dalam bangunan galeri yang terpisah di samping masjid. “Itu foto-fotonya, yang menceritakan kejadian tsunami di Ulee Lheue,” tunjuk Subhan.

Galeri yang juga berisi aneka souvenir dan tak ketinggalan aneka batu akik untuk dibeli pengunjung sebagai oleh-oleh, baru difungsikan Maret 2015. Setelah pemerintah Kota Banda Aceh membangunnya, guna ruang pamer galeri dengan masjid. “Dulu foto-foto bukti sejarah ini dipamer di dalam. Turis non-muslim segan untuk masuk.”

Mengisi waktu puasa di masjid Ulee Lheue, tak hanya dengan duduk beri’tikaf atau sekadar tidur di dalamnya. “Kita bisa melihat foto-foto dan mengenang tsunami yang pernah terjadi di sini. Untuk semakin beriman kepada-Nya,” kata Husaini, salah seorang warga.

Masjid Baiturrahim telah lama ada, peninggalan kesultanan Aceh yang dibangun semasa Iskandar Muda (1607-1636 M) memimpin Kerajaan Aceh Darussalam. Masjid dibangun secara swadaya oleh masyarakat di atas tanah yang diwakafkan oleh Teuku Hamzah, seorang Hulubalang di Ulee Lheue.

Pada mulanya masjid ini hanya berkontruksi kayu sederhana dengan arsitektur khas Hindu. Letaknya bangunannya di samping masjid sekarang, atau tepatnya di pertapakan menara. Saat itu masih bernama Masjid Jamik Ulee Lheue.

Nama Baiturrahim ditabalkan setelah Masjid Raya Baiturrahman yang berada di pusat kota Banda Aceh, terbakar dalam perang Belanda tahun 1873 M. Segala aktivitas peribadatan seperti salat Jumat kemudian dipindahkan ke Masjid Baiturrahim, Ulee Lheue yang telah dikuasai Belanda sebelumnya.

Ulee Lheue oleh Belanda kemudian dijadikan kawasan kota pelabuhan, tempat kapal pengangkut rempah-rempah bersandar. Belanda ikut membantu pembangunan Masjid Baiturrahim secara permanen dengan arsitektur khas Eropa. Tanpa besi dan tulang penyangga, masjid ini dibangun hanya dari tumpukan batu-bata dan semen. Kayu digunakan berasal dari India. Masjid makin terlihat indah dengan ukiran-ukiran kaligrafi di dalamnya.

Pada tahun 1983, kubah masjid tersebut rubuh karena dilanda gempa. Sejak itu, Masjid Baiturrahim tanpa kubah besar lagi. Sejak 1993, masjid yang menyimpan sejarah perang direnovasi besar-besaran. Lantainya ditambah, tapi tanpa mengganggu bangunan aslinya, terutama di bagian depan. Bencana tsunami kemudian datang pada 2004, masjid itu tak terusik di tapaknya. [TEMPO]