Pesona Masjid Kopiah Meukutop

Banda Aceh – Satu ke-khasan yang bisa dirasakan jika melaksanakan ibadah ramadan di Aceh, adalah ibadah shalat malam atau Qiyamul Lail. Pelaksanaan ibadah ini dilakukan di dua masjid besar di Kota Banda Aceh, Masjid Baitul Musyahadah dan Masjid Al-Makmur Lampriet, Banda Aceh.

Dan untuk menghidupkan 10 malam Ramadan terakhir ini, Pemerintah Kota Banda Aceh mendatangkan tiga imam dari Arab Saudi. Ketiganya yakni Syeikh Anas Abdulrahman Bushahha, Syeikh Ali Mohammed Al-Syehri, dan Syeikh Abdulaziz Mudhhi Al-Harbi.

Untuk Mesjid Baitul Musyahadah sendiri, ini juga merupakan tahun ketiga diadakannya pelaksanaan shalat malam. Tahun ini dipimpin langsung oleh Syekh Ali, Imam yang berasal dari Arab Saudi.

Walau tak berada di pusat kota, Masjid Baitul Musyahadah alias Masjid Kopiah Meukeutop ini tak susah ditemui. Dengan kubah berbentuk Kopiah khas Aceh menjadikannya unik. Pemilihan kubah berbentuk kopiah meukutop ini didasarkan pada keinginan menunjukkan sisi ke-Acehan dan mengabadikan semangat juang dari pahlawan Teuku Umar.

Masjid Baitul Musyahadah dibangun secara swadaya tahun 1989. Awalnya masjid ini bermula dari sebuah meunasah dengan nama Al-Ikhlas. Perencanaan pembangunan dan ide arsitekturnya dilakukan oleh Prof Ali Hasjmy, seorang cendekiawan terkemuka di Aceh. Lalu pada tahun 1993 Mesjid ini diubah namanya menjadi Baitul Musyahadah dan diresmikan langsung oleh Gubernur Aceh Syamsuddin Mahmud yang saat itu juga didampingi oleh ulama kondang KH Zainuddin MZ, yang diundang langsung memberikan ceramah agama.

Daya tariknya pada keindahan arsitektur dan keunikan kubah kopiahnya. Kopiah Meukutop sendiri memiliki filosofi mendalam. Warna-warninya mencerminkan lambang dari Islam, qanun dan adat-istiadat. Masjid ini didirikan di tapak berbentuk segi lima, yang melambangkan rukun Islam yang lima. [Yayan]