Masjid Makmur Bergaya Oman

Banda Aceh – Sejuk dan nyaman berada di dalamnya, Senin malam 30 Juni 2016. Diiringi merdu suara Imam, ratusan jamaah larut dalam ibadah Isya dan Tarawih di Masjid kebanggaan Kota Banda Aceh, Masjid Agung Al-Makmur. Warga kota kerap menyebutnya Masjid Oman.

Malam itu, shalat Isya dan Tarawih dipimpin oleh Imam dari Arab Saudi, Syeikh Anas Abdulrahman Bushahha. “Guna memotivasi masyarakat menghidupkan 10 malam terakhir Ramadan. Masjid jangan hanya ramai pada awal-awal Ramadan saja,” ujar Kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Banda Aceh Mairul Hazami.

Tak hanya Isya dan Tarawih, Syeikh Anas juga memimpin salat tengah malam atau qiyamul lail sampai salat subuh. Suara dan irama khas membuat suasana ibadah serasa di Timur Tengah.

Masjid Agung Al-Makmur terletak di Lampriet, salah satu masjid megah di Kota Banda Aceh. Warga akrab dengan nama Masjid Oman, karena dibantu pemerintah Kesultanan Oman, pasca tsunami.

Masjid dibangun di atas tanah seluas 7.571 meter persegi. Luas lantai mesjid ini ± 1.600 meter persegi. Setiap sudutnya ada kamar wudhu dan bersuci. Lantai dalam masjid dilapisi permadani dan dindingnya dihiasi dengan kaligrafi ayat AlQuran dan lainnya. Masjid ini dibangun dengan arsitektur timur tengah dan memiliki 2 menara dan satu kubah.

Asal mula masjid itu dibangun pada 1979, yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Aceh Prof A.Majid Ibrahim dan Tgk. H Abdullah Ujung Rimba (Ketua Majelis Ulama Daerah Istimewa Aceh). Masjid siap pada 1989.

Sejak tahun 1989, Masjid Al Makmur dikelola oleh sebuah kepengurusan dan keimaman. Kemudian pada tahun 1992 berdasarkan hasil evaluasi dan penilaian Badan Kesejahteraan Masjid Kota Banda Aceh, Masjid Al Makmur dengan surat keputusan Badan Tersebut No. 09/DKM/2.C/1992 tanggal 2 Desember 1992 ditetapkan sebagai Masjid Agung atau Masjid Kota Banda Aceh. Karenanya Masjid ini disebut namanya Masjid Agung Al Makmur Kota Banda Aceh

Musibah Gempa dan Tsunami 26 Desember 2004, masjid itu mengalami kerusakan parah. Atapnya ambruk dan tiang-tiang patah. Selanjutnya pembangunan baru disanggupi oleh Sultan Qabus Bin Said dari negara Kesultanan Oman yang difasilitasi awal oleh Dr Helmi Bakar dari Hilal Merah Indonesia.

Masjid dibangun kembali seperti sekarang pada 19 Juni 2006 setelah adanya Nota Kesepakatan Antara Kepala Perwakilan Negara Kesultanan Oman di Jakarta dengan Walikota Banda Aceh. Akhirnya pada hari Selasa 19 Mei 2009, Masjid Agung Al Makmur diresmikan pemakaiannya. [AW|imasjid.wordpress.com]