Mie Aceh, Dicari Warga Saat Berbuka

Banda Aceh – Saban hari jelang waktu berbuka puasa, warung-warung Mie Aceh diserbu pembeli di Banda Aceh. Makanan khas Aceh itu menjadi favorit disantap saat berbuka.

Salah satu warung Mie Aceh yang ramai dikunjungi warga adalah warung Mie Bireuen, di Ulee Kareng Banda Aceh. “Kami mulai buka pukul lima sore, biasanya pembeli ramai sekitar pukul enam, kurang satu jam dari waktu berbuka,” ujar Muntasir, pemilik warung, Kamis 23 Juni 2016.

Menurutnya, Mie Aceh yang dipesan pengunjung jelang berbuka umumnya menu mie goreng. Pengunjung juga ramai usai tarawih sampai tengah malam di tempatnya. “Kalau makan di sini usai tarawih, biasanya jenis mie rebus,” ujarnya.

Tempat lain yang ramai diserbu pembeli adalah warung Mie Lala di Kampung Mulia, Mie Razali di Peunayong, Mie Midi di Lueng Bata dan warung-warung kopi yang menjual Mie Aceh, tersebar di seluruh pelosok Ibukota Provinsi Aceh itu.

Mie Aceh memang khas daerah. Perbedaan dengan mi lainnya adalah pada bentuknya. Mi-nya terbuat dari tepung dan berwarna kuning atau kerap disebut mi kuning serta diolah tanpa bahan pengawet. Ukurannya sedikit lebih besar dari mi biasanya. Mungkin mirip mi hokkian atau spaghetti.

Meraciknya tak susah. Muntasir mengatakan bahan dasar yang dipergunakan hanya mie kuning dan bumbu. Pada bumbulah terletak rahasia Mie Aceh yang nikmat.

Bumbunya terdiri rempah-rempah, ada cabai, bawang putih, dan kemiri, bawang merah dan juga kacang tanah serta sedikiy lada. Bumbu digiling halus dan berwarna merah.

Saat memasak Mie Aceh, penjual kerap mencampurkan daging, udang dan kepiting yang semakin menggugah selera. Rasanya dijamin makin maknyus. Saat memakan, ditambah acar, irisan bawang dan kerupuk melinjo. [AW|Tempo]