Kuliner Banda Aceh
Lincah Mameh

Sebenarnya dalam adat istiadat Aceh tidak dikenal makanan penutup mulut alias dessert. Tapi aneka hidangan sebanding dengan makanan penutup mulut selalu disajikan dalam setiap menu makanan dalam sebuah perhelatan atau pesta.

Satu di antaranya adalah rujak manis atau dalam bahasa Acehnya disebut Lincah Mameh. Namanya saja rujak manis, tapi dalam campuran rasanya juga ada sedikit rasa pedas yang membuat menjadi lebih segar dan menantang.

Ada dua sajian yang dikenal umum untuk lincah mameh. Pertama, sajian dengan aneka buah diparut lalu dicampur air gula dan disajikan dalam mangkuk atau gelas yang bisa diminum. Sajian kedua, aneka buah dipotong acak tipis, dengan bumbu yang manis dan campuran kacang disajikan dalam piring.

Kuliner segar dan menyehatkan ini bisa ditemui dengan mudah di pinggir pasar tradisional di Peunayong, Banda Aceh. Satu porsinya bisa dibeli dengan harga murah mulai dari Rp 5.000 per porsi. Selain itu juga bisa ditemui di sekitar kawasan jalan Muhammad Jam, Banda Aceh.

Lincah mameh terkadang juga dicampur dengan buah rumbia (buah dari pohon sagu) yang sudah tua atau yang sudah diasinkan, yang membuat rasa rujak semakin nendang di lidah saat dikonsumsi. “Buah rumbia ini berfungsi untuk menghindari dari diare, karena rasanya yang sedikit kelat,” ujar Sulaiman, pedagang Lincah Mameh di Peunayong.

Bahan-bahan untuk membuat rujak manis adalah buah mangga, bengkuang, timun, nenas dan papaya serta buah rumbia (jika ada).

Lincah mameh juga bisa didapatkan sebagai hidangan penutup di sejumlah rumah makan yang menyajikan masakan khas Aceh di Kota Banda Aceh. Ingin menikmati sensasinya, silakan datang ke Kota Banda Aceh. [Yayan]