Daya Tarik Keukarah Bagi Pelancong

Banda Aceh – Persediaan Keukarah atau Karah di gerai kue tradisional Pak Adnan (57) di kawasan Pasar Atjeh sempat habis. Adnan sang pemilik gerai memesannya kembali, karena kue khas Aceh itu diminati banyak warga dan pelancong.

“Ini baru diantar lagi kue nya, sudah habis sejak kemarin, padahal ini baru beberapa hari usai hari raya, pembuat kue masih libur,” ujar Adnan sambil tertawa, Jumat 15 Juli 2016.

Pembelinya kebanyakan wisatawan yang menghabiskan libur hari raya di Banda Aceh, sebut Adnan. “Kalau kemarin banyak orang Malaysia yang beli, mereka suka karena bentuknya unik dan rasanya tidak terlalu manis, cocok untuk camilan saat jalan-jalan,” ujar Adnan.

Keukarah memang kue yang banyak dilirik para wisatawan. Selain pelancong dari Malaysia, sebut Adnan, pengunjung asal Jakarta dan beberapa kota di Pulau Jawa dan Sumatera, juga memilih Keukarah sebagai camilan saat jalan-jalan.
“Alasannya ya itu tadi, bentuknya lucu dan rasanya manis gurih menjadi daya tarik dan enak dimakan,” jelas pria yang sudah berjualan kue kering Aceh sejak tahun 1980 tersebut.

Hal senada juga dikatakan Kak Upik, pengelola toko souvenir Cut Nyak Souvenir yang berlokasi di jalan Mohd Jam Banda Aceh. Menurut Upik, dari sekian banyak jajanan kering tradisional Aceh, maka Keukarah menjadi jajanan yang selalu dilirik para pelancong, terutama pelancong asal Malaysia. “Belum pernah makan juadah yang seperti ini, rasanya enak, saya suka,” aku Puan Rusydah, pelancong asal Kualalumpur Malaysia, saat berkunjung ke gerai kue pak Adnan.

Serombongan turis asal Malaysia ini pun memborong sejumlah kue untuk dijadikan oleh-oleh.

Ari, pengunjung asal Jakarta juga melakukan hal yang sama. Mengemas Keukarah sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Jakarta. “Ini nanti mau dibagi ke keluarga dan teman-teman,” katanya. Harga Keukarah terbilang murah, mulai Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu sesuai dengan ukuran kemasan yang ada.

Di era tahun 1980-an hingga tahun 1990-an, kenang Adnan, kue Keukarah ini sulit ditemukan di hari-hari biasa. Pasalnya kue dengan bentuk seperti sarang burung ini, biasanya hanya dibuat saat hari raya saja atau pada saat adanya kenduri pesta perkawinan. Dalam pesta perkawinan, Keukarah akan menjadi bagian penting dari antaran pengantin.

“Jadi ini kue adat kalau untuk orang aceh. Tapi sekarang karena zaman sudah maju, kini kue ini lebih memasyarakat, artinya bisa jadi lebih mudah ditemui tapi fungsinya sebagai kue adat tetap masih berlaku, yakni sebagai adat pemulia jamee (adat memuliakan tamu). Bentuknya ya sebagai oleh-oleh untuk tamu yang datang berkunjung ke sini,” jelasnya.

Keukarah terbuat dari tepung beras yang diadon dengan santan dan diberi gula. Dimasak dengan cara digoreng dengan ditiriskan dari kaleng kecil yang sudah diberi lubar kecil sekelilingnya, lalu adonan ditiriskan ke dalam minyak panas. Setelah digoreng Keukarah dibentuk seperti bulan sabit. Ada juga berbentuk bulat lonjong.

“Dulu untuk satu Keukarah ukurannya setengah piring makan orang dewasa. Kini bentuk dan ukuran semakin inovasi bahkan ada seukuran jari-jari namun tetap dalam bentuk bulan sabit,” ujar Adnan.

Selain Keukarah, di pusat wisata kuliner Pasar Atjeh, Banda Aceh, ada beberapa camilan kue kering juga menjadi favorit bagi pelancong di antaranya Pisang Sale Goreng, Bada Reuteuk dan Lontong Paris. Pasar Atjeh teretak persis di samping Masjid Raya Baiturrahman. [Yayan]

Baca juga:
Intip Pembuatan kue Keukarah
Banda Aceh: One Day, One City and All Aceh Culinary Experience
Warung Kuliner Tradisional di Kota Banda