Turis Muslim Nikmati Paket Wisata Ramadan

29 Juni 2015

Foto: Abu Arkan

Foto: Abu Arkan


Banda Aceh – Paket wisata Ramadan mulai dinikmati turis di pekan kedua Ramadan, setelah awalnya sempat sepi. Paket wisata berjuluk “Amazing Ramadan in Aceh” itu digemari wisatawan dari Malaysia dan Thailand.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh, Fadhil mengatakan, paket wisata Ramadan yang diluncurkan sebulan lalu memungkinkan turis menikmati nuansa puasa di Aceh, khususnya Kota Banda Aceh sebagai destinasi wisata Islami dunia (world Islamic tourism). “informasi dari teman-teman travel, banyak wisatawan luar yang sudah memilih paket itu,” ujarnya.

Kedatangan para wisatawan yang ingin merasakan Ramadan di Aceh, memberikan semangat kepada semua pihak, masyarakat dan pemerintah guna mempertahankan berbagai tradisi serta keunikan Ramadan.

Salah satu pemilik travel di Banda Aceh, Mujiburrizal mengakui adanya minat turis mancanegara terhadap paket wisata Ramadan ini. Travelnya sudah menfasilitasi 30 wisatawan dari Malaysia dan Thailand yang menikmati tour Ramadan ke Aceh, selama sepekan terakhir. “Rata-rata mereka berada di sini empat hari tiga malam,” ujarnya.

Perkiraannya, angka kunjungan akan terus meningkat pada pertengahan Ramadan, karena adanya tradisi kanduri Nuzulul Quran serta kanduri khatam Alquran yang dilakoni masyarakat Aceh. “Turis Malaysia rindu melihat tradisi-tradisi seperti itu.”

Paket wisata Ramadan di Aceh dikemas dalam aneka kegiatan. Mulai dari sahur bareng, kemudian shalat subuh berjamaah di Masjid Raya Baiturrahman serta menikmati tausyiah agama. Selanjutnya pada siang hari, mereka diajak berkeliling tempat-tempat bernilai sejarah dan religi di Aceh.

Sore harinya, wisatawan dibawa melihat ramainya pasar yang menjual aneka makanan berbuka puasa. Mereka juga diajak berbuka puasa bersama anak yatim serta menikmati kuliner tradisional khas Ramadan di Aceh. Malam harinya, turis diajak menikmati shalat tarawih berjamaah. Masjid yang direkomendasi adalah Masjid Raya Baiturrahman, Masjid Agung Lamprit (Masjid Oman) dan Masjid Kupiah Meukeutop Setui. “Mereka juga dapat bertadarus sesudahnya,” kata Mujib. [Salman]