Sambai Oen Peugaga, Anti Pikun

Aceh punya satu makanan unik yang diracik dari aneka dedaunan. Namanya Sambai Oen Peugaga (daun pegagan). Daun Peugagan (centella asiatica) tumbuhan merambat ini berkhasiat meningkatkan kosentrasi dan mempertajam daya ingit serta dapat mengobati masuk angin. Daun ini biasanya tumbuh di pematang sawah, atau di tempat-tempat yang sejuk. Saat bulan puasa tiba banyak orang yang mencari daun ini untuk menemani sajian berbuka.

Gerobak dadakan milik Nisa disingahi banyak pembeli. Bersama ibunya, ia berjualan hanya pada bulan Ramadan saja. Ia menjual payeh dan belacan serta oen peugaga. Berjualan di depan bengkel di Jalan Twk Daud Syah, Peunayong, membuat pembeli memarkirkan kendaraannya sebelum mulai membeli. Semua makanan dijual dengan harga 5 ribu Rupiah per porsinya. Mereka adalah satu-satunya penjual oen peugaga di tempat itu.

Nisa terus berjualan walaupun mahasiswa baru ini mengatakan tidak pernah mencicipi barang dagangannya. “Biasa cuma mamak yang makan, yang beli juga banyak orang tua,” katanya tersenyum, Selasa lalu.

Jalan Tgk Pulo di Baroh, Kampung Baro, juga terlihat ramai selepas salat asar. Jalan yang sementara terlarang untuk kendaraan sudah dipenuhi penjual pelbagai jenis makanan dan minuman di kanan-kirinya, untuk mencegah kemacetan polisi lalu lintaspun disiagakan.

Berada dalam kerumunan para penjual makanan dadakan, tempat Samsidar tetap disinggahi banyak pembeli. Ibu tiga orang anak ini merupakan salah seorang dari empat penjual oen peugaga di sana.

Samsidar sudah 10 tahun berjualan sambal ini. Selama bulan Ramadan kali ini ia ingin mencoba peruntungan berjualan di luar bulan istimewa ini. “Mulai bulan depan mau mencoba berjualan lagi di Makam Pahlawan (Peuniti), mudah mudahan sama seperti sekarang peminatnya,” ungkap Samsidar sambil membenarkan letak barang dagangannya.

Di rak sederhana miliknya terhidang sambai oen peugaga satu talam sudah bercampur daun jeruk perut, serai dan cabe merah, bersama beberapa slide dish seperti kelapa gongseng, rubong bungong kala yang sudah dicincang halus, bunga pepaya, cabai dan serai yang sudah dirajang, masing masing diletakkan dalam wadah yang berbeda. Tak hanya itu ia juga menjual payeh udang dan ikan, belacan dan ade yang ditata dan dibungkus dengan daun pisang. Masing-masing dijual dengan harga lima ribu Rupiah.

Satu talam sambai tidak hanya berisikan daun lambai, namun ada beragam daun lainnya. “Kata orang tua, sambal ini dibuat dengan campuran 44 daun yang diramu,” tambah Samsidar.

Para pelanggan yang datang kebanyakan membeli sambai ini karena memiliki khasiat menambah stamina selama puasa dan menjauhkan dari penyakit pikun. Seperti yang dikatakan oleh seorang pembeli yang datang dari Blang Krueng, Aceh Besar, yang khusus datang setiap hari agar dapat berbuka dengan sambal ini. “Dari dulu setiap bulan puasa harus ada ini, jadi baru enak berbukanya,” katanya sambil berlalu pergi.

Menurut Samsidar walaupun dianggap kurang enak oleh anak muda, makanan ini selalu diburu jika Ramadan datang. “Ada hadih majah dalam pepatah orang Aceh kalau sambai oen peugaga sunat dimakan selama puasa seperti halnya kurma di Arab,” sambungnya lagi.

Oen peugaga ini dibeli oleh para penjual di pasar pagi Peunayong, yang dibawa dari kawasan Blang Bintang, Sibreh dan Lhoknga (Aceh Besar). Mereka membelinya pagi hari dan mulai meracik dan mencincang halus semua daun selepas salat tawarih di malam harinya, seperti yang dilakukan oleh Samsidar dan Nisa kala membantu ibunya. Sore harinya mereka menjual sejumput ramuan oen peugaga dengan harga dimulai lima ribu Rupiah. “Kelapa lagi mahal sekarang,” kata Samsidar.

Seumanggot, nuqud, oen jambe kleng, oen jambe, gelima, Oen bak rendong, tapak leman, daun pepaya, daun mengkudu, oen beum, daun mangga, daun sie gentot adalah beberapa jenis daun yang masih diingat oleh Rubama, salah seorang penjual oen peugaga, di Pasar Pagi Peunayong.

“Hanya pucuk daun saja yang diambil,” kata Rubama. Perempuan paruh baya ini membawa daun dari kampungnya Lam Ateuk yang dititip oleh para tetangga kepadanya. Dalam satu ikat kecil yang sudah berisi pelbagai macam daun dan serai itu dijualnya tiga ribu Rupiah dan ia mendapatkan untung sebanyak lima ratus Rupiah.

Rubama sudah lama berjualan, ia sempat digusur berkali-kali dan berpindah-pindah lokasi sebelum akhirnya menetap di lapaknya sekarang. Dagangannya tidak hanya oen peugaga karena daun ini hanya ia jual saat bulan Ramadan namun juga kangkung, daun sop, jeruk nipis, asam sunti, asam jawa yang sudah dikupas dari biji dan lainnya. “Untungnya nggak banyak tapi apa boleh buat namanya juga kita cari nafkah,” tambahnya.

Ia menambahkan kadang kala mendapat pesanan oen peugaga di luar bulan puasa yang kemudian digunakan untuk obat. Ia sendiri juga sangat menyukai menu sambai ini. “Saat berbuka puasa saya memakannya dengan ie bue beudah yang dimasak di meunasah rasanya enak sekali tanpa kue lainpun tak mengapa,” ceritanya.

Di pojok lain pasar ada Khatijah, Nuraini dan Aminah sedang duduk di jalan beraspal yang menjadi lapak mereka berjuala setiap pagi sampai jam 12 siang. Mereka menjual oen peugaga yang sudah dicincang halus sebesar lima ribu Rupiah. Membelinya dari pengepul dan menjualnya kembali. “Kalau tidak laku, kami makan untuk sendiri nanti selepas berbuka,” tutur Khatijah terkekeh.

Aminah menambahkan jika sekarang jarang anak muda yang menyukai makanan ini karena tidak modern dan menganggap kuno serta pahit. Padahal, khasiatnya banyak sekali seperti penambah stamina, obat batuk, asam lambung, perut kembung, darah tinggi dan antipikun.

Tak hanya didapat dengan membeli, terkadang orang tua menanam sendiri di pematang sawah atau sekeliling rumah, seperti yang dilakukan Ruhani, warga Tungkop. Ia membuat sendiri ramuan sambai oen peugaga. Ia menggunakan kelapa yang dikukur ditambah u lheu atau terkadang asam sunti, bukan kelapa gongseng. Resep ala Ruhani disebut-sebut membuat daun tidak terlalu pahit dibanding jika mengunkan kelapa gongseng.

“Saya mempunyai asam urat dan rematik jadi susah kalau akan yang lain,” ujarnya. “Dulu waktu masih kecil setiap bulan puasa kami pergi ke sawah mencari daun ini, wate woe ka meulehob (waktu pulang penuh lumpur) tapi ibu tak pernah marah karena ada daun ini,” kenang perempuan 60 tahun ini. [KH | acehkita.com]