Budaya

Mengenang 523 Tahun Sultan Aceh Bertahta

  • Haul4
  • Haul3
  • Haul2
  • Haul1
  • Haul5
Next
  • Haul4
  • Haul3
  • Haul2
  • Haul1
  • Haul5
Previous
Foto: Ahmad Ariska

Banda Aceh – Para pegiat sejarah dan budaya memperingati 523 tahun Sultan Ali Mughayat Syah naik tahta sebagai pemimpin Kerajaan Aceh Darussalam (1514-1530). Ali Munghayat Syah merupakan sultan yang disegani musuh sekaligus pemersatu Kerajaan Aceh.

Kegiatan dilaksanakan di komplek Taman Sari Gunongan, Kota Banda Aceh, Minggu, 30 Agustus 2015. Bersamaan dengan memperingati 555 tahun Sultan Salahuddin Syamsu Syah mendeklarasikan syariat Islam di Aceh, serta haul Sultan Iskandar Tsani ke 386 tahun dan haul Sulthanah Safiatuddin ke 350.

Panitia kegiatan Djamal Syarief mengatakan, haul dan aksi mengenang sultan ini yang ketujuh digelar pihaknya dalam tiga tahun terakhir. Hari ini kegiatannya digabung bersamaan, karena momentumnya berdekatan.

Lewat kegiatan ini diharapkan masyarakat Aceh terutama generasi muda semakin sadar dengan sejarah bangsanya. “Meski pun ini kita buat sangat sederhana, tapi setidaknya ini mampu mereview kembali sejarah Aceh,” ujar Djamal yang juga Pamong Budaya Aceh.

Acara diawali dengan samadiah bersama dipimpin Ustad Mujiburrizal yang juga Duta Museum Aceh, dilanjutkan dengan penuturan hikayat sultan oleh Muammar Al Farisyi, kemudian testimony sejarah disampaikan Teungku Abdurrahman Kaoy, pemerhati sejarah yang juga Wakil Ketua Majelis Adat Aceh. Diakhiri dengan foto bersama mengenakan pakaian khas Aceh masa lalu di atas Gunongan, disertai dengan pembacaan puisi oleh Djamal Syarief.

Hadir dalam acara ini Tuanku Warul Walidin, cicit Sultan Muhammad Daud Syah, Hasnida dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banda Aceh, Haikal Afifa dari Institut Peradaban Aceh, Teuku Farhan (Masyarakat Teknologi Informasi), Mawardi Usman (Lamuri Fondation), keturunan Raja Meureuhom Daya dan penyuka sejarah dan budaya Aceh lainnya.

Abdurrahman Kaoy menuturkan, peradaban dan syariat Islam di Aceh sudah mengalami kemajuan jauh sebelum kemerdekaan Indonesia ada. Bahkan sebelum Kerajaan Aceh Darussalam bersatu di bawah kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah, Aceh sudah menjalankan syariat Islam.

Adalah Sultan Salahuddin Syamsu Syah yang pertama sekali mendeklarasikan syariat Islam di Aceh, 555 tahun lalu. Salahuddin Syamsu Syah merupakan ayah dari Sultan Ali Mughayat Syah. “Saat itulah Aceh dinyatakan menjalankan syariat Islam,” ujarnya.

Sejak syariat Islam dideklrasikan kesultanan, kata dia, berdirilah masjid-masjid di Aceh. Masyarakat yang sebelumnya menganut Hindu-Budha mulai beralih ke Islam dengan damai. Rumah ibadah dan patung-patung dirubuhkan pertanda dimulainya peradaban baru.

32 tahun kemudian, Sultan Ali Mughayat Syah naik tahta tahun 1514. Ia berhasil menyatukan kerjaan-kerajaan lain di Aceh ke dalam Kerajaan Aceh Darussalam yang menganut sistem kesultanan. “Sultan Ali Mughayat Syah menjalankan syariat Islam yang sudah dideklarasikan Sultan Salahuddin (ayahnya),” sebut Abduraahman.

Masa itu Kerajaan Aceh bersatu melawan Portugis yang ingin menguasai Selat Malaka dan wilayah-wilayah strategis. Aceh ikut dibantu lima Kerajaan besar lain. “Kerajaan Turky paling besar membantu,” tukasnya.

Ali Mughayat Syah berhasil mempertahankan kedaulatan Aceh, hingga ia mangkat 7 Agustus 1530 atau 936 Hijriah. Makam Sultan Ali Mughayat Syah di komplek Kandang XII yang dulunya merupakan area Darul Dunia, Istana Kerajaan Aceh.

Kemudian digantikan putranya Sultan Salahuddin yang berkuasa hingga 1537. Sultan Aceh terus berganti hingga sampai pada Sultan Iskandar Tsani Alaudin Mughayat Syah (1636-1642).

Iskandar Tsani merupakan putra Sultan Pahang yang dibawa Sultan Iskandar Muda (1607-1636) ke Aceh saat usianya masih 7 tahun, dan dijadikan anak angkat serta digelari Raja Bungsu. Saat beranjak dewasa, Sultan Iskandar Muda menikahkan putri mahkotanya Safiatuddin dengan Iskandar Tsani.

Ketika Sultan Iskandar Muda mangkat pada 27 Desember 1636, Sultan Iskandar Tsani diangkat sebagai pengganti. Tsani artinya dua. Ia hanya bertahta enam tahun, kemudian mangkat pada 6 Zulkaidah 1050 Hijriah.

Tampuk kekuasaan akhirnya jatuh ke permaisurinya Sulthanah Safiatuddin (1642-1675). Safiatuddin merupakan raja perempuan atau sulthanah pertama di Aceh. Ia tak hanya memimpin pemerintahan tapi juga perang.

Menurut Abdurrahman Kaoy, ada empat orang sultanah dalam Kerajaan Aceh Darussalam, berikutnya 20 ratu dan sekian maharani atau srikandi pemimpin perang. Menurutnya sulthanah kedudukannya lebih tinggi dari ratu. “Karena sulthanah bukan hanya memimpin kerajaan dan rakyat, tapi juga memimpin perang. Di bawah sulthanah ada ratu, di bawah ratu ada maharani,” ujarnya.

“Hal ini membuktikan bahwa Aceh sudah lebih dulu menghormati gender ketimbang dunia barat. Jadi seharusnya bangsa barat yang harus berlajar gender ke Aceh, bukan kita yang belajar ke sana,” ujarnya. [Salman Mardira]